Home > cerita inspirasi, puisi asal > Kamukah Akukah

Kamukah Akukah

Di rumah gedung bersulam permadani
Berwarna merah anyir tiada jeri
di rumah kardus di rumah si petani
Beralas tanah sudah tiada almari

Kamukah Akukah bukan anak lagi
Bukan di rimba bukan binatang
Bila Salah usah larikan pagi
Senja itu pasti akan datang

Kamukah Akukah O Sang Jalang
Bila keadilan pun terlupakan
Kau arak Aku arak binatang
Itukah wahai penyelesaian?

#######
*www.ceritainspirasi.net

  1. February 13, 2010 at 8:19 am

    @Mas Jodie, maaf belum sempet ndaftar nya, soalnya cerita inspirasi mendadak dikunjungi sulit disini.. mudah2an besok bisa di daftarkan…

  2. February 13, 2010 at 9:02 am

    masihkah berharap ketika keadilan sudah terlupakan?

  3. February 13, 2010 at 9:23 am

    nah ini baru a poet from north, dah lama kali tak dengar puisi yg seperti ini lagi…

  4. February 13, 2010 at 9:25 am

    aduh, masih gak mudeng nih. met wiken chen. kenapa jadi inget Gus Dur?

  5. February 13, 2010 at 9:26 am

    lupa, bawain kue keranjang berikut keranjangnya. hehehee

  6. February 13, 2010 at 9:26 am

    o ya, kalo kasih gorengan mesti ada rawitnya ya. yg pedeees.

  7. February 13, 2010 at 9:32 am

    ini cerita antara si miskin dan si kaya ya?mantap kata 2nya saya tidak pernah bisa membuat kata2 sebagus itu a-chen

  8. February 13, 2010 at 10:10 am

    wah sarkastisbinatang dan arak jadi satu

  9. February 13, 2010 at 10:23 am

    salam kenalsepertinya terlalu egois ketika kita memetakkan antara "aku" atau "kamu"

  10. February 13, 2010 at 11:05 am

    mampir kesini kok malah ingat si mbak yaa :p

  11. February 13, 2010 at 11:37 am

    Keadilan, kadang saya pun mempertanyakannya.

  12. February 13, 2010 at 12:33 pm

    Semoga saja supremasi hukum tetap ditegakkan.

  13. February 13, 2010 at 4:11 pm

    keadilan? Ah… di negeri ini rasanya itu hanya milik orang yang punya duit berlimpah dan kekuasaan tanpa batas…

  14. February 13, 2010 at 4:20 pm

    koruptor memang "jalang" tak berperi tak berbudi!!!

  15. February 13, 2010 at 10:10 pm

    entah lah bro,ikut puyeng juga hehehe.Nice poem.

  16. Dhe
    February 14, 2010 at 4:05 am

    ini puisi tntang sang koruptor yah? pejabat2 yang menikus tikus yah?

  17. February 16, 2010 at 10:23 am

    hmmm.. tentang kesenjangan.. tentang perbedaan.. hmm..btw, makasih atas partisipasinya yaaa… ^^

  18. February 16, 2010 at 12:32 pm

    Sarat makna. Puisi keren, sob.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: